Beberapa smartphone memang menua dengan cepat.
Baru setahun lewat, performanya mulai terasa berat.
Baterai turun drastis.
Kamera mulai tertinggal.
Dan akhirnya cuma jadi pajangan di marketplace bekas.
Tetapi ada juga HP yang anehnya tetap dicari meski usianya sudah tidak muda lagi.
Poco F2 Pro dan Google Pixel 4 termasuk salah satunya.
Keduanya sama-sama lahir di era flagship 2019β2020.
Era ketika produsen smartphone masih cukup berani mengambil identitas masing-masing.
Belum seragam. Belum membosankan.
Dan mungkin itu alasan kenapa sampai sekarang, dua HP ini masih sering diperbincangkan β bahkan di forum-forum diskusi Android terbaru sekalipun.
Padahal secara karakter, mereka hampir tidak punya kesamaan.
Spesifikasi Dasar: Beda Generasi Chip, Beda Filosofi β
Sebelum masuk ke pengalaman pemakaian, mari kita lihat dulu angkanya.
| Spesifikasi | Poco F2 Pro | Google Pixel 4 |
|---|---|---|
| Chipset | Snapdragon 865 | Snapdragon 855 |
| RAM | 6 GB / 8 GB | 6 GB |
| Storage | 128 GB / 256 GB | 64 GB / 128 GB |
| Layar | 6,67" AMOLED, 60Hz | 5,7" P-OLED, 90Hz |
| Kamera Utama | 64 MP f/1.89 | 12,2 MP f/1.7 + 16 MP f/2.4 Tele |
| Baterai | 4.700 mAh | 2.800 mAh |
| Pengisian | 30W Fast Charge | 18W Fast Charge |
| Kamera Depan | Pop-up 20 MP | 8 MP |
| Berat | 219 gram | 162 gram |
Sekilas, Poco F2 Pro menang di hampir semua angka.
Tetapi kalau membaca tabel spesifikasi sudah cukup untuk memilih HP, tidak akan ada yang pernah membeli Pixel.
Poco F2 Pro: Flagship "Overkill" yang Masih Relevan β
Kalau melihat Poco F2 Pro hari ini, rasanya masih sulit percaya HP ini dirilis beberapa tahun lalu.
Snapdragon 865 miliknya masih terasa sangat kuat bahkan untuk standar sekarang.
Dalam benchmark Antutu, Snapdragon 865 mencatatkan skor sekitar 620.000β650.000 poin β jauh di atas kebanyakan chipset mid-range yang beredar saat ini. GPU-nya, Adreno 650, diklaim sekitar 25% lebih kencang dibanding Adreno 640 di Snapdragon 855 yang dipakai Pixel 4. Di game seperti Genshin Impact atau PUBG Mobile versi terbaru, Poco F2 Pro masih mampu berjalan di setting medium-high tanpa banyak drama.
Yang lebih menarik: Snapdragon 865 terkenal efisien untuk ukuran chipset sekelas itu. Dipakai gaming lama masih nyaman. Editing video masih aman. Multitasking berat juga tidak gampang ngos-ngosan.
Dan karena versi yang banyak dicari biasanya 8/256, storage juga nyaris bukan masalah. Di era aplikasi yang ukurannya makin brutal tiap tahun β WhatsApp saja sudah hampir 300MB, belum lagi game mobile yang bisa makan 2β4 GB per judul β 256 GB terasa jauh lebih lega dibanding kebanyakan HP sekarang yang masih bertahan di 128 GB.
Layar Tanpa Gangguan β
Tetapi daya tarik Poco F2 Pro sebenarnya bukan cuma performa.
Ada satu hal kecil yang sekarang mulai hilang dari industri smartphone:
layar full tanpa gangguan.
Tidak ada punch hole.
Tidak ada notch.
Karena kamera depannya menggunakan mekanisme pop-up, tampilan layarnya terasa benar-benar bersih ketika dipakai menonton film atau membaca. Layar AMOLED 6,67 incinya membentang penuh dari sisi ke sisi β tanpa ada lubang kamera yang merusak sudut pandang.
Dan anehnya, fitur yang dulu sempat dianggap gimmick itu sekarang justru terasa mewah.
Karena hampir tidak ada lagi HP baru yang berani menawarkan hal serupa.
Kamera Poco F2 Pro: Angka Besar, Hasil Layak β
Soal kamera, Poco F2 Pro datang dengan sensor utama 64 MP f/1.89 β angka yang terlihat impresif di kertas.
Dalam kondisi cahaya cukup, hasilnya memang tajam dan detail. Poco menyertakan mode portrait yang bisa dimanfaatkan untuk foto dengan efek bokeh yang cukup konsisten. Perekaman videonya juga mampu mencapai resolusi 8K pada 30FPS β salah satu yang pertama di kelas harganya kala itu.
Kekurangannya: Poco F2 Pro tidak dilengkapi OIS (Optical Image Stabilization) untuk foto statis. Stabilisasi hanya tersedia secara elektronik (EIS) untuk video, yang otomatis melakukan cropping pada resolusi. Jadi untuk foto malam hari tanpa tripod, hasilnya bisa terasa sedikit lebih bising dibanding ekspektasi dari sensor sebesarnya.
Pixel 4: HP yang Tidak Pernah Mengejar Angka β
Sementara itu, Pixel 4 seperti datang dari filosofi yang berbeda.
Google tidak terlalu peduli soal angka besar.
Bahkan saat pertama kali dirilis, banyak orang mengkritik Pixel 4 karena baterainya kecil (hanya 2.800 mAh) dan storage 64 GB yang terasa tanggung untuk ukuran flagship. Chipset-nya pun "hanya" Snapdragon 855 β bukan yang paling baru bahkan di tahun rilisnya sendiri.
Tetapi lini Pixel memang hampir tidak pernah dijual lewat spesifikasi.
Yang dijual adalah experience.
Dan itu sesuatu yang agak sulit dijelaskan kalau belum pernah memakainya langsung.
Android yang Terasa Berbeda β
Android di Pixel 4 terasa ringan. Animasinya halus. Transisi kecilnya rapi.
Tidak banyak aplikasi bawaan aneh. Tidak banyak fitur yang sebenarnya tidak pernah dipakai.
Karena Pixel adalah HP Google yang dijalankan langsung oleh tim Android itu sendiri, pembaruan sistem selalu datang lebih cepat dibanding HP Android lain. Di zaman Pixel 4 aktif didukung, update keamanan dan fitur datang tiap bulan, tepat waktu, tanpa harus menunggu proses kustomisasi dari vendor.
Semuanya terasa sederhana, tetapi justru itu yang membuat banyak orang nyaman.
Kamera Pixel 4: Kecil Sensornya, Besar Otaknya β
Ini bagian yang paling menarik dari Pixel 4.
Kamera utamanya "hanya" 12,2 MP β angka yang terlihat tidak istimewa dibanding kompetitornya. Tetapi Google melengkapinya dengan lensa telefoto 16 MP f/2.4 yang dilengkapi OIS dan EIS sekaligus. Artinya, foto dari Pixel 4 lebih stabil secara optik β sesuatu yang secara teknis tidak dimiliki Poco F2 Pro.
Yang jauh lebih penting: computational photography Pixel 4 masih tergolong kelas tersendiri.
Fitur Night Sight-nya memungkinkan foto malam hari yang jauh melampaui kemampuan sensor sekecil itu. Google bahkan mengembangkan mode Astrophotography yang secara teknis menggabungkan hingga 15 eksposur berturut-turut, masing-masing maksimal 16 detik, untuk menghasilkan foto bintang yang tajam dari tangan yang gemetar β hal yang sangat sulit dilakukan oleh HP lain di masanya.
Cara kerjanya: alih-alih membuka rana satu kali selama 4 menit (yang pasti blur), Pixel 4 mengambil belasan foto pendek lalu menggabungkannya menggunakan algoritma AI. Setiap frame dibersihkan dari noise, kemudian digabungkan menjadi satu foto yang bersih dan terang.
Hasilnya tidak terlalu agresif. Tidak terlalu "cantik berlebihan". Tetapi justru terlihat natural.
Kadang ada HP dengan kamera lebih canggih, sensor lebih besar, bahkan megapiksel lebih tinggi. Tetapi hasil akhirnya tetap terasa seperti kamera smartphone. Sedangkan Pixel sering menghasilkan foto yang terasa lebih hidup β lebih dekat ke hasil kamera mirrorless entry-level daripada HP kebanyakan.
Dua HP, Dua Tipe Pengguna Android β
Kalau dipikir-pikir, Poco F2 Pro dan Pixel 4 sebenarnya mewakili dua tipe pengguna Android yang berbeda secara mendasar.
Poco F2 Pro cocok untuk orang yang:
- Butuh performa tinggi untuk gaming atau multitasking berat
- Sering menyimpan banyak file, foto, atau konten tanpa bersih-bersih rutin
- Suka layar besar untuk menonton konten
- Pakai HP seharian penuh dan butuh baterai yang tidak bikin cemas
- Suka punya HP yang terasa "besar dan bertenaga"
Pixel 4 lebih cocok untuk orang yang:
- Suka Android yang bersih, tanpa bloatware, tanpa iklan bawaan
- Lebih suka HP compact yang nyaman digenggam satu tangan
- Mengutamakan kualitas foto β terutama malam hari
- Lebih peduli kenyamanan dan kelancaran harian dibanding benchmark
- Tidak terlalu sering gaming berat
Dan menariknya, tidak ada yang benar-benar salah di sini.
Karena semakin lama seseorang memakai gadget, biasanya ia mulai sadar bahwa pengalaman memakai HP ternyata tidak selalu ditentukan oleh benchmark.
Kadang justru detail kecil yang paling terasa.
Getaran keyboard.
Animasi ketika membuka aplikasi.
Cara kamera memproses warna langit sore.
Hal-hal kecil yang bahkan sulit dijelaskan lewat angka.
Masalah Baterai: Ini yang Harus Dipahami Sebelum Beli Pixel 4 Bekas β
Kalau ada satu hal yang membuat banyak orang ragu membeli Pixel 4 hari ini, jawabannya jelas: baterai.
2.800 mAh di tahun 2026 memang terasa kecil β bahkan untuk ukuran HP mid-range sekarang pun sudah banyak yang membawa 5.000 mAh ke atas.
Tetapi masalahnya bukan hanya soal kapasitasnya yang kecil.
Masalah terbesarnya adalah: ini HP bekas.
Unit Pixel 4 yang beredar di pasar sekarang sudah berumur 5β6 tahun. Baterai lithium-ion pada umumnya mengalami degradasi hingga 20β30% setelah 500 siklus pengisian β dan jika dipakai intensif, itu bisa dicapai dalam 1,5 hingga 2 tahun. Artinya, banyak unit Pixel 4 di pasar bekas yang baterainya sudah tinggal 70β80% dari kapasitas aslinya. Yang tadinya sudah kecil, kini menjadi lebih kecil lagi.
Screen-on-time Pixel 4 dalam kondisi baru pun sudah tidak bisa dibanggakan β rata-rata hanya 3β4 jam. Di unit bekas dengan kondisi baterai rata-rata, itu bisa turun ke 2β2,5 jam.
Jadi kalau berencana membeli Pixel 4 bekas, ini hal pertama yang harus dicek: kondisi kesehatan baterai. Minta penjual untuk menunjukkan persentase baterai di pengaturan, atau bawa ke toko yang bisa cek dengan alat.
Sementara Poco F2 Pro terasa jauh lebih aman di aspek ini.
Baterai 4.700 mAh miliknya masih cukup nyaman dipakai harian bahkan sekarang. Ditambah Snapdragon 865 yang terkenal cukup efisien dalam pengelolaan daya, overall experience Poco terasa lebih "tenang" untuk penggunaan lama β terutama untuk yang sering bepergian dan tidak selalu punya akses ke charger.
Soal Update Software: Keduanya Sudah Berhenti β
Ini hal yang penting dan sering luput dari pembahasan.
Baik Poco F2 Pro maupun Pixel 4, keduanya sudah tidak mendapatkan update resmi dari pabrikannya masing-masing.
Google menghentikan dukungan Pixel 4 pada Oktober 2023 β artinya sudah tidak ada lagi patch keamanan bulanan yang masuk secara resmi. Poco F2 Pro pun sudah tidak mendapatkan pembaruan MIUI/HyperOS baru.
Yang membuat Pixel 4 sedikit lebih menarik di aspek ini: komunitasnya jauh lebih hidup. Custom ROM seperti GrapheneOS, LineageOS, dan CalyxOS masih aktif mendukung Pixel 4 hingga hari ini β memberikan akses ke Android versi terbaru beserta patch keamanan yang masih relevan. Ini salah satu alasan kuat kenapa komunitas penggemar Pixel tetap loyal.
Poco F2 Pro juga punya opsi custom ROM, meski ekosistemnya tidak sebesar Pixel.
Perbandingan Harga Bekas: Berapa Nilai Keduanya Sekarang? β
Di pasar bekas lokal (per 2026), harga keduanya sudah jauh berbeda dari harga awal rilisnya.
- Poco F2 Pro 8/256: umumnya ditawarkan di kisaran Rp 1,8β2,5 juta tergantung kondisi
- Google Pixel 4 128GB: bervariasi cukup lebar, dari Rp 1,2β2 juta, tergantung kondisi baterai dan kelengkapan
Poco F2 Pro punya nilai tukar yang relatif lebih stabil karena chipset-nya yang masih kompetitif. Pixel 4, meski lebih murah, membawa risiko baterai yang harus diperhitungkan sebagai biaya tersembunyi β mengganti baterai HP bisa menambah Rp 200β400 ribu ekstra, tapi bisa membuat pengalaman pemakaiannya jauh lebih baik.
Jadi, Mana yang Lebih Worth It? β
Kalau bicara value dan logika murni, Poco F2 Pro memang lebih masuk akal.
Performanya masih buas.
Storage besar.
Baterai aman.
Dan secara keseluruhan terasa lebih future-proof untuk 1β2 tahun ke depan.
Tetapi Pixel 4 punya sesuatu yang sulit dibeli lewat spesifikasi.
Karakter.
Dan mungkin memang itu alasan kenapa sampai sekarang lini Pixel masih punya komunitas penggemar yang sangat loyal β bahkan untuk perangkat yang sudah berumur hampir tujuh tahun.
Karena kadang orang tidak mencari HP yang paling sempurna.
Kadang orang hanya mencari HP yang terasa menyenangkan ketika dipakai setiap hari.
Dan dua HP ini, masing-masing dengan caranya sendiri, masih bisa memberikan itu.
Ringkasan Cepat β
| Poco F2 Pro | Google Pixel 4 | |
|---|---|---|
| Performa harian | β Sangat kuat | β Cukup lancar |
| Gaming berat | β Aman | β οΈ Masih bisa, tapi tidak ideal |
| Baterai | β 4.700 mAh, aman | β 2.800 mAh, risiko tinggi di unit bekas |
| Kamera foto natural | β οΈ Bagus, tapi agresif | β Natural & konsisten |
| Kamera malam | β οΈ Lumayan | β Unggul jauh (Night Sight) |
| Layar | β Besar, bersih, full | β 90Hz, responsif |
| Software bersih | β MIUI banyak bawaan | β Stock Android |
| Custom ROM | β οΈ Ada, tidak seramai Pixel | β Ekosistem sangat aktif |
| Storage | β 256 GB tersedia | β οΈ Maksimal 128 GB |
| Ukuran & genggaman | β οΈ Besar dan berat (219g) | β Compact (162g) |
Kesimpulan sederhana:
Pilih Poco F2 Pro kalau kamu butuh HP bekas yang bisa diandalkan untuk kerja berat, gaming, dan pemakaian seharian tanpa drama baterai.
Pilih Pixel 4 kalau kamu sudah paham risikonya, mau ganti baterai, dan lebih mengutamakan pengalaman foto yang natural serta Android yang bersih β atau penasaran dengan dunia custom ROM berbasis Pixel.
Keduanya bukan HP sempurna. Tetapi di harganya sekarang, keduanya masih bisa jadi pilihan yang sangat masuk akal β tergantung kamu mau mencari apa.
Referensi: Spesifikasi resmi POCO F2 Pro & Google Pixel 4, GSMArena, XDA Developers, Google AI Blog, benchmark dari Qualcomm Snapdragon 865 vs 855.
Login dengan GitHub untuk berkomentar
